.

rss

Daftar Artikel Menarik Tinggal di Klik!

translate to your language

Kamis, 17 Desember 2009

Cara Membuat Kertas Daluang




Tulisan di bawah diambil dari makalah Tedi Permadi, Daluang Dalam Tradisi Tulis Nusantara. Tedi bersama Kelompok Bungawari telah berusaha untuk mengenalkan kembali penggunaan kertas daluang dan sekaligus melakukan budi daya tanaman pohon saeh. Beberapa workshop pembuatan kertas daluang telah ia lakukan di beberapa tempat, bahkan sempat pula menggelar pameran kertas daluang. Foto-foto di bawah merupakan dokumentasi Kelompok Bungawari.


Upaya pengenalan lainnya mengenai kertas Daluang adalah mengenai bagaimana cara pembuatannya, dalam hal ini metode rekonstruksi pernah dilakukan pada tahun 1998-2000 oleh sebuah LSM lokal yang menaruh minat atas potensi kearifan tradisional Nusantara di Bandung, Kelompok Bungawari, yang pendanaannya dibantu oleh Global Environmemnt Facility/Small Grant Programme - United Nation Development Programee (GEF/SGP - UNDP).Dalam menjalankan proses rekonstruksinya, langkah yang dilakukan oleh Kelompok Bungawari adalah melakukan penelusuran atas pohon Paper Mulberry yang keberadaannya terancam punah, melakukan pengamatan pola tumbuh, melakukan rekonstruksi alat dan teknik pembuatan berdasarkan berita-berita lisan dan tertulis.Pohon Paper Mulberry adalah sejenis tumbuhan tingkat rendah yang termasuk ke dalam keluarga Moraceae, ia dikenal dengan beberapa nama diantaranya adalah Paper moerbeiboom, Murier a papier, Japanischer papierbaum, dan Paper mulberry. Demikian pula dengan di Indonesia, ia dikenal dengan berbagai nama daerah, yaitu: Pasemah: Sepukau, Sunda: Saeh, Jawa: Glugu/ Galugu, Madura: Dhalubang/ Dhulubang, Sumba: Kembala (bagian Timur)/ Rowa (bagian Barat), Baree: Ambo, Banggai: Linggowas, Tembuku: Iwo, dan Kepulauan Seram: Malak.

Menurut Heyne dalam bukunya yang berjudul Tumbuhan Berguna Indonesia, disebutkan bahwa tumbuhan ini dimungkinkan berasal dari Cina; namun apabila memperhatikan daerah persebarannya, kita akan menyangsikan kemungkinan tersebut, apalagi jika mempertimbangkan aspek pemanfaatannya yang telah dikenal oleh masyarakat tradisional di Nusantara.

Masih menurut Heyne, berdasarkan berita dari Rumphius, seorang ahli yang bergerak di bidang Etnologi, proses pembuatan kertas Daluang tidak jauh beda dengan proses pembuatan pakaian kulit kayu yang dibuat di pedalaman Kalimantan (Dayak) dan Sulawesi (Banggai); dan atas berita tersebut serta ditambah dengan perbandingan atas proses pembuatan Lulub (sejenis tali tardisional yang bahannya dari kulit kayu pohon Waru dan pohon Tisuk) dan Tas Koja di suku Baduy, maka proses rekonstruksi pembuatan kertas Daluang dilakukan.

Untuk proses pembuatannya, diperlukan adanya beberapa alat dan kelengkapan, antara lain yaitu:

  1. Golok, dipergunakan untuk menebang pohon Paper Mulberry yang disiapkan untuk dijadikan sebagai bahan baku pembuatan kertas,
  2. Pisau, dipergunakan untuk menguliti batang pohon,
  3. Ember, dipergunakan untuk merendam dan mencuci kulit kayu,
  4. Pameupeuh sejenis alat pemukul, dipergunakan untuk penyamakan kulit kayu, terbuat dari campuran logam kuningan dan tembaga yang dicor dengan panjang 10 cm dan lebar 4 cm. Bentuk dari alat ini menyerupai trapesium, dan pada bagian yang mendatar terdapat alur berlekuk yang berjumlah antara 7-9 jalur; sejajar dengan panjang badan, terdapat lubang memanjang yang berfungsi untuk memasukkan tangkai pegangan,
  5. Balok kayu, sebaiknya terbuat dari kayu pohon Nangka, hal ini karena selain jenis kayu ini keras, juga tidak mempunyai getah yang mengganggu proses penyamakan. Balok kayu ini digunakan sebagai bantalan,
  6. Daun pohon Pisang, digunakan untuk pemeraman kulit kayu hasil penyamakan,
  7. Batang pohon Pisang, dipergunakan untuk menjemur kulit kayu hasil pemeraman, dan
  8. Tempurung Kelapa, untuk meratakan serat kulit kayu dan membuang kelebihan lendir pada waktu penjemuran.

Mengenai cara pengolahan kertas Daluang ini, pernah pula dikemukakan dalam Teysmannia 1898 (hal. 553) oleh De Wolff van Westerrode dalam Heyne (hal. 662) bahwa di Pulau Jawa pohon ini tidak boleh berumur lebih dari 2 tahun. Pada waktu itu, pohon ini telah mencapai tinggi 6 meter dengan diameter batang sekitar 20 cm. Pohon yang lebih muda atau tua, tidaklah baik untuk bahan pembuatan kertas.

Setelah ditebang, batang pohon ini dibagi-bagi menjadi beberapa potongan pendek, bagian ini sekitar 1/3 panjang dari kertas yang akan dibuat. Selanjutnya kulit kayunya diambil, diratakan dan diiris-iris menjadi sobekan yang lebarnya antara 5-6 cm. Dari sobekan kulit tersebut, diambil bagian luar yang tidak berserat, kemudian diletakkan di atas balok kayu, dan dipukuli satu per satu.

Kulit kayu yang telah dipukuli dan mencapai lebar 2 kali dari panjang semula, kemudian direndam di dalam air selama setengah jam, untuk kemudian dicuci dan diperas; selanjutnya bahan tersebut dilipat secara membujur dan dipukuli lagi hingga lebarnya mencapai sekitar 50 cm, lalu dijemur di terik matahari sampai kering. Setelah kering kemudian direndam, diperas, dilipat dan digulung dalam daun pisang yang segar selama 5-6 hari untuk proses pemeraman sampai mengeluarkan lendir.

Setelah pemeraman selesai, kemudian diratakan di atas papan dan ditekan beberapa kali dengan tempurung kelapa yang bersisir, lalu dengan tempurung kelapa yang halus, dan diakhiri dengan daun Nangka yang telah layu. Bahan tersebut kemudian dibentangkan pada sebuah batang pohon pisang dan dijemur di bawah terik matahari sampai mengering dan mengelupas dengan sendirinya.Namun demikian berdasarkan proses rekonstruksi yang dilakukan oleh Kelompok Bungawari, terdapat beberapa bagian yang perlu untuk diperhatikan, yaitu:

1. setelah penebangan pohon Paper Mulberry, langsung diikuti dengan proses pengulitan kulit kayu, hal ini dilakukan untuk mempermudah proses pembuangan kulit ari (Westerrode tidak mengisyaratkan pembuangan kulit ari) dan pemotongan bahan,

Daluang
2. setelah terdapat berupa kulit kayu yang bersih, lalu direndam di air bersih selama kurang lebih setengah jam,

Daluang
3. kulit kayu hasil perendaman lalu dipukul dengan menggunakan ‘Pameupeuh‘ di atas bantalan balok kayu pohon Nangka sampai mencapai lebar 2 kali dari lebar semula, lalu dua bagian ditempel, dilipat secara membujur, dan dipukuli hingga mencapai lebar sekitar 50 cm,

Daluang
4. langkah berikutnya adalah mencuci kulit kayu tersebut di air bersih, kemudian diperas, dilipat, dan digulung dengan daun Pisang yang masih segar sekitar 2-4 hari atau sampai mengeluarkan lendir, dan

Daluang
5. dibentang di atas batang pohon pisang, kemudian dijemur di terik matahari sambil diurut untuk meratakan serat kulit kayu dan mengeluarkan lendir yang berlebih.

Daluan



Artikel Terkait:

0 komentar:


Poskan Komentar